Kamis, 01 November 2012

Kenshin; Pemimpin Penuh Dedikasi

resensi ini dimuat di Pikiran Rakyat, Kamis 1 November 2012

Judul buku: Uesugi Kenshin; Daimyo Legendaris dari Kasugayama
Penulis      : Eiji Yoshikawa
Penerbit    : Kansha Books, Jakarta
Cetakan    : Pertama, 2012
Tebal buku: 388 halaman
ISBN        : 978-602-971-96-8-0
Harga        : Rp. 59.800,-

SEJARAH (pada era feodal), memang tidak pernah sepi dari kecamuk perang demi keberlangsungan sebuah kekuasaan. Perang seakan menegasikan dua aforisme yang ganjil bahwa "kekuasaan" itu jauh lebih penting daripada ribuan bahkan jutaan nyawa umat manusia mati di medan perang. Tetapi, di mata rakyat, kekuasaan kerapkali butuh penyangka yang kuat dan rakyat sering menjadi tumbal kekuasaan -dilibatkan dalam perang dan harus mengalami penderitaan dan kenestapan. Dua aforisme tentang perang itulah yang dielbarasi dengan manawan oleh Eiji Yoshikawa dalam novel yang bisa disebut sebuah epik ini.

Sebagai seorang damyo dan samurai sejati, Kenshin tentu tak dapat mengelak untuk mengabdi sepenuh hati kepada kaisar. Apalagi ketika dia telah mendapat mandat dari Kaisar untuk mengatasi kerusuhan dan menaklukkan negeri-negeri yang mengacaukan Jepang. Karena itu, demi menjunjung tinggi kehormatan Kaisar, Kenshin berikrar untuk berjuang hingga napas terakhir. Maka tak ada pilihan lain, waktu klan Hojo menyerang negeri-negeri kecil, Kenshin memanggul senjata dan mengerahkan pasukan mengepung Hojo.

Tapi, saat Kenshin memanggul tugas berat dari Kaisar itu, Takeda Shingen justru menyerang dan membumihanguskan Kastel Warigadake --kastel milik Uesugi Kenshin. Padahal, antara Echigo dan Kei telah terikat perjanjian damai. Ulah Singen itu pun dianggap sebagai sebuah pengkhianat dan pasukan Echigo pun geram. Tetapi, Kenshin dengan tenang menarik pasukan Echigo pulang dari ekspedisi lantas masuk ke kastel Kasugayama sebagai pertanda mengalah. Para punggawa Kenshin menelan kekecewaan. Apalagi Kenshin setelah itu mengutus Saito Shimotsuke pergi ke Kofu untuk melakukan perundingan (damai).

Rupanya, pengiriman utusan itu hanya sebuah taktik. Diam-diam, Kenshin menyusun rencana --mengerahkan 13.000 pasukan dan menduduki wilayah Kai di gunung Saijo. Shingen merasa dibohongi. Dengan jumlah pasukan lebih besar, Shingen tidak tinggal diam --mengerahkan 20.000 pasukan dan merasa menang di atas kertas. Kondisi itulah yang mendorong Shingen keluar benteng, dan membagi pasukan jadi dua bagian: pasungan pertama (12.000 orang) disiapkan melakukan serangan fajar ke Gunung Saijo. Sisanya menuju Hachimanbara untuk menghadang jalur mundur pasukan Uesugi.

Tapi sebelum fajar, Kenshin memerintahkan pasukan berkemas, meninggalkan Saijo. Shingen mengira pasukan Eusugi mundur (melarikan diri). Tragis, perkiraan Shingen meleset. Kenshin justru mendekati markas Shingen (yang dijaga 8.000 pasukan), dan bertekat berperang dengan satu serangan, dan perang ini diharapkan Kenshin akan menjadi perang penentu --apakah dia yang akan mati ataukah Shingen? Perang besar yang terjadi zaman Sengoku Jidai ini dikenal dalam sejarah sebagai perang Kawanakajima.

Sebagian besar alur cerita dalam buku ini berkisah tentang kecamuk perang Kawanakajima. Meski berkisah tentang perang Kawanakajima, novel ini lebih menonjolkan sosok Uesugi Kenshin --seorang damyo legendaris dari Kasugayama yang dikenal penuh dedikasi, dan menjunjung tinggi jiwa samurai. Berbeda dengan novel Furin Kazan --karya Yasushi Inoue-- yang juga mengisahkan tentang perang Kawanakajima dari sudut pandang Yamamoto Kansuke, ahli strategi perang brilian dan salah satu dari 24 jenderal Shingen, novel ini justru mengambil sudut pandang yang lain dan bertolak belakang: dari sudut pandang Uesugi Kenshin. 

Eusugi Kenshin memang dikenal sebagai seorang damyo yang brilian, cerdik dan berjiwa besar. Sebagian besar orang, tak memungkiri jika permusuhan antara Kenshin dan Shingen itu dipicu dari kedatangan Yoshikiyo, keturunan Minamoto Yoriyoshi yang datang minta perlindungan setelah negerinya dihancurkan Shingen dan seluruh keluarganya mati. Kenshin yang masih muda, tidak tinggal diam. Meski ia waktu itu menguasai negeri terpencil di Echigo Utara, tidak makmur, bahkan tak memiliki jumlah samurai yang banyak, Kenshin mulai mengerahkan pasukan dan bersaing dengan Shingen. Tahun demi tahun berlalu, peperangan antara klan Uesugi (Kenshin) dan Klan Takeda (Shingen) terjadi di beberapa tempat dan seakan tanpa henti.

Meski novel ini mengisahkan perang, tetapi pengarang menguguhkan dua hal prespektif dalam melihat peperangan. Di mata sebagian besar orang, Yoshikiyo, keturunan Minamoto Yoriyoshi, tidak dapat disangkal bahwa peperangan itu merupakan "tragedi sejarah" yang memilukan: membawa kemalangan, kemiskinan, dan penderitan bagi rakyat. Dalam perang Kawanakajima ini, misalnya, dicatat Eiji Yoshikawa bahwa pihak Kai yang tewas 4.630 orang sedang pada pihak Echigo 3.470 orang. Akibat perang itu, negeri Echigo dan Kai dipenuhi istri tanpa suami juga anak tanpa ayah. Itulah harga mahal dari sebuah perang yang harus dibayar demi sebuah kekuasaan.

Tetapi, bagi pemimpin seperti Kenshin, di balik kenestapaan peperangan itu termaktum "impian dan tujuan besar" --demi memberantas kejahatan, membangun masa depan, dan mewujudkan perubahan yang memang tak dapat dihindari dan hal itu hanya bisa diwujudkan lewat perang. Meski, dalam peperangan itu darah ditumpahkan, prajurit dikuburkan, tapi semua itu demi tugas mulia memberantas kejahatan dan membangun masa depan Jepang.

Lantas, pendapat mana yang benar? Apa pendapat Kenshin atau kebanyakan orang? Jawaban atas pertanyaan ini, hanya ada dalam hati nurani setiap manusia. Dan buku ini, bisa menjadi pelajaran penting bagi pembaca untuk merenungkan tentang perang.

*) N. Mursidi, blogger buku dan cerpenis, tinggal di Jakarta

1 komentar:

WAWASANews.com mengatakan...

http://www.wawasanews.com/2013/07/harimau-penuh-kasih-dari-kasugayama.html

Poskan Komentar